Kaus seragam yang bisa mengubah ion tubuh dan membuat otot bekerja lebih baik mulai populer di sepak bola.Tanpa sentuhan Guus Hiddink, mungkin tim Rusia tak bakal maju ke semifinal Euro 2008 lalu. Begitu pula tim Australia, yang ia bawa ke babak kedua Piala Dunia 2006. Kalau boleh mengingat-ingat, keberhasilan terbaik Hiddink mungkin pada 2002.
Ia membawa tim antah berantah, Korea Selatan, masuk semifinal Piala Dunia. Salah satu kunci keberhasilan Hiddink saat itu adalah meningkatkan kekuatan fisik para pemain. Bagi kesebelasan Korea saat itu, tidak ada bedanya bermain pada 10 menit pertama dengan 10 menit terakhir. Mereka sanggup bergerak tanpa henti tanpa lelah sampai detik terakhir.
Kekuatan fisik memang salah satu kunci kemenangan sepak bola dan olahraga lainnya. Nah, selain berlatih, ada satu cara menambah kekuatan fisik: mengenakan seragam yang bisa merangsang sirkulasi darah lebih cepat.
Teknologi ini buatan Canterbury dari Selandia Baru, mengandung ion dan setidaknya dipakai dua tim dalam dua liga terbaik dunia, yaitu Portsmouth di Liga Primer Inggris dan Deportivo La Coruna di Primera La Liga Spanyol.
Di dunia sepak bola, pakaian ini banyak dibicarakan. Tapi di dunia rugbi sudah menjadi pembicaraan hangat setelah sejumlah tim nasional, termasuk Afrika Selatan, Australia, dan Skotlandia, menggunakannya.
Setelah ketiga negara itu mengenakan pakaian ini, sejumlah negara meminta Dewan Rugbi Internasional memastikan apakah baju ini termasuk doping atau bukan. Tapi sejauh ini Dewan Rugbi tidak menilai sebagai doping. Mereka memandangnya tidak ilmiah.
"Karena tidak ada publikasi ilmiah yang mendukung klaim bahwa perubahan ion tubuh meningkatkan kinerja dan karang teknologi ini tidak mengandung zat terlarang, hal ini tidak dilarang sampai saat ini," kata juru bicara Dewan Rugbi, Frederic Donze.
Professor Mike Caine, Kepala Departemen Teknologi dan Inovasi Olahraga di Universitas Loughborough, Inggris, menyatakan dalam latihan berat pakaian bernama ionX menambah 2,7 persen tenaga saat otot berada di puncak kerja.
Tentu saja, apakah ini bisa diterjemahkan ke tenaga menendang yang lebih kuat? Caine mengatakan harus diteliti lebih lanjut.
Adapun Joe Middleton, Kepala Canterbury UK, mengklaim, "Dengan seragam ini, atlet papan atas bisa memulihkan diri lebih cepat antara dua latihan."
Seragam itu dirancang memiliki ion-ion negatif. Saat menempel dengan tubuh pemain, ion akan masuk ke tubuh. Di dalam badan, ion negatif akan mengurangi daya lekat darah dengan urat nadi. Akibatnya, darah bergerak lebih cepat dan pasukan oksigen yang dibawa darah makin cepat sampai ke otot. Kerja otot pun membaik.
Portsmouth, yang meraih gelar juara Piala FA pada Mei lalu, merasa kaus ini sangat bagus. Kesebelasan Liga Primer bersimbol bulan bintang itu pun berniat menggunakannya secara eksklusif di Inggris. Mereka tidak ingin ada tim lain yang juga menggunakan teknologi ini.
Teknologi ion ini sudah diributkan sejak lama. Orang Jepang, misalnya, menyadari bahwa berdiri dekat air terjun--yang menciptakan ionisasi--membuat orang merasa nyaman. Pada 1930-an, ilmuwan Jerman membuat kamar ionisasi yang dipakai para pilot agar mereka bisa awas lebih lama. Teknologi serupa juga dipakai atlet negara komunis pada era Perang Dingin.
Teknologi ini muncul pada pakaian setelah sebuah perusahaan tekstil Amerika Serikat mengembangkannya. Perusahaan Amerika itu semula membuat pakaian pelindung bagi pekerja yang membersihkan kebocoran nuklir di Chernobil.
Begitu mendengar penemuan, Canterbury membeli hak cipta selama 25 tahun, menjual ke dunia olahraga, digunakan oleh tim-tim rugbi, dan sekarang mulai menyentuh sepak bola.
No comments:
Post a Comment